Ada yang bilang “takdirTuhan kadang kala tak bisa dinalar”, kiranya ungkapan itu harus ditinjau ulang,
sebab jika kita “berani menelanjangi” diri kita sendiri, niscaya kita akan dengan
lantang mengatakan “ada hikmah di balik semua yang terjadi pada kita”.
Hikmah. Laksana mainan
bagi anak kecil yang sedang merengek, jika kita belum berani ngatain
diri kita sendiri. Jujur terhadap diri sendiri merupakan kunci untuk meraih hikmah
di balik takdir yang kita jalani, sebab manusia (seluruh makhluk dalam tatanan
kosmos) pada hakikatnya sedang berjalan di atas lintasan-lintasan takdir yang
sejak semula telah diciptakan, bahkan sebelum manusia (makhluk) itu tercipta.
Kejujuran yang demikian
itu merupakan standar minimal agar kita tidak mudah terpuruk dalam kesedihan,
jika takdir yang sedang kita lalui bertolak belakang dengan kemauan dan harapan
kita. Lebih lanjut, yang paling bijaksana adalah kembali pada kesadaran awal
untuk apa kita tercipta.

